Mengajar Dan Belajar Dengan Cinta

Cinta mendorong orang yang penakut menjadi berani, orang kikir menjadi dermawan, memfasihkan lidah orang yang gagap, membangkitkan semangat orang yang lemah, dan menjadikan mudah hal-hal yang sulit. Hanya orang-orang yang pernah merasakannya saja yang merasakan betapa cinta itu seperti candu, nikmat, dan memabukkan. Hanya orang-orang yang mengalaminya-lah yang tahu betapa penderitaan karena cinta itu pahit bagai empedu dan pedih bagai disayat sembilu. Cinta mendatangkan kebahagiaan yang menyelimuti jiwa dan kesenangan yang bersemayam dalam hati. Cinta menjadikan segalanya menjadi ringan dan mudah. Maka bila kita ingin mengerjakan sesuatu dengan ringan dan mudah, kita harus mencintai pekerjaan itu, atau kita buat bagaimana agar kita bisa mencitai pekerjaan tersebut.
Cinta kepada Alloh akan membuat kita dengan ringan dan mudah, bahkan merasakan kenikmatan dalam menjalankan ibadah kepada-Nya. Nabi SAW besabda:
“ Orang-orang yang ridho Alloh sebagai Robb, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai utusan Alloh, dialah orang yang merasakan nikmatnya iman. (HR. Muslim)
Cinta kepada profesinya akan membuat seorang guru melaksanakan tugas-tugas mengajarnya dengan ringan bahkan mendatangkan kebahagiaan tersendiri dalam melakukannya. Dan cinta kepada ilmu, akan membuat seorang siswa selalu semangat belajar, baik ketika diajar di dalam kelas atau belajar sendiri serta selalu bersemangat untuk mempelajari berbagai macam ilmu, baik �ulumuddunya, terlebih ulumuddin…

Mengajar Dengan Cinta
Mengajar dengan cinta berarti melaksanakan tugas-tugas kepengajaran dengan perasaan senang dan cinta. Menyiapkan materi pembelajaran dengan terlebih dahulu mencintai dan menyenangi materi yang akan diajarkan, menyampaikannya kepada siswa dengan cinta, juga mengoreksi pekerjaan siswa dengan hati ringan dan senang. Mencintai profesi mengajar bahkan bisa menjadikan kegiatan pembelajaran dan mengoreksi tugas siswa sebagai hiburan dan sarana aktualisasi diri. Walhasil, mengajar akan bernilai ibadah bila diniatkan untuk mencari ridho dan pahala dari Alloh
Mengajar dengan cinta juga termasuk di dalamnya mencintai siswa-siswa yang diajar dan memandang “positif” pada mereka. Setiap siswa, seperti halnya setiap anak dalam sebuah keluarga adalah unik dan istimewa. Semua orang tua akan melihat keistimewaan masing-masing anak yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Semua unik semua istimewa. Orang Jawa bilang, “Wingko katon kencono”. Seperti apapun kondisi anak, orang tua akan melihatnya seperti kencana, dan tetap akan melimpahinya dengan kasih sayang dan cinta. Demikianlah harusnya seorang guru memandang siswa-siwanya. Siswa “menangkap” pandangan guru lebih cepat dan akurat daripada mereka “menangkap” apapun yang diajarkan. Guru yang memandang siswa-siswanya akan mampu memahami pelajaran yang akan ia ajarkan dan membuat siswa bersemangat untuk mengeluarkan segala kemampuannya untuk memahami pelajaran seperti apa yang diharapkan gurunya. Guru yang mencintai siswa-siswanya, yang cenderung banyak senyum, akrab dengan siswa, dan berbicara dengan cara intelektual dan penuh humor, akan mempercepat pembelajaran siswa. Sama saja apakah siswa yang diajar itu tergolong para siswa dalam grup “kemampuan tinggi”, ataukah para siswa yang tergolong dalam “kemampuan rendah”. Seperti halnya kecintaan orang tua kepada anaknya, kecintaan guru kepada siswa-siswanya juga harus dibarengi dengan peraturan dan kebijakan yang akan menjaga ketertiban dan menuntun tindakan siswa. Seperti, mendengarkan dengan tenang saat orang lain berbicara, tidak terlambat masuk kelas, tidak meninggalkan kelas tanpa keperluan yang penting, dll. Peraturan ini bisa merupakan peraturan dari guru bagi siswa-siswanya, bisa juga merupakan kesepakatan bersama antara guru dan siswa.
Belajar Dengan Cinta
Seperti halnya mengajar dengan cinta, belajar dengan cinta adalah belajar dengan perasaan ringan, senang, cinta, dan bersemangat. Beberapa hal yang membuat siswa bersemangat dalam belajar seperti, fasilitas belajar yang memadai, lingkungan belajar yang tepat dan menyenangkan, cara guru mengajar yang bisa menumbuhkan semangat belajar para siswa, juga cukupnya motivasi yang dimiliki siswa dalam menuntut ilmu. Banyak ayat dan hadist yang memerintahkan tholabul ilmi. Nabi bersabda : “ Barang siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik, maka akan dipandaikannya dalam urusan din” (HR. Bukhori) Dalam hadist yang lain : “ Barang siapa keluar dengan tujuan menuntut ilmu, maka ia di jalan Alloh sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi).
Dengan ilmu, kita akan melakukan segala sesuatu dengan benar. Bahkan dengan ilmu kita akan terhindar dari perbuatan dosa, insyaAlloh. Dalam hadist riwayat Muslim disebutkan, bahwa barang siapa yang punya landasan ilmu terlebih dahulu dalam beribadah kepada Alloh dan berusaha melaksanakan kewajiban-kewajibannya, maka tidak imbalan baginya selain jannah.
” Barang siapa yang berpegang dengan suatu cara dan dia mempunyai ilmu tentangnya, Alloh akan memudahkan baginya jalan ke surga “. (HR. Muslim).
Begitu pentingnya ilmu dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, maka seharusnyalah bagi setiap siswa untuk selalu bersemangat dan haus akan ilmu, baik ulumuddin, maupun ulumuddunya. Dengan demikian para siswa akan melakukan pembelajaran dengan rasa cinta dan cukup motivasi, karena sadar akan besarnya kebutuhan mereka terhadap ilmu.
Alloh berfirman dalam surat Al Mujadalah : 11
“…..Alloh akan mengangkat (derajat) orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat….”.

Daftar Pustaka
1. Al Qur’anul Karim
2. Taman orang-orang Jatuh Cinta, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
3. Quantum Teaching, Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie
4. Quantum Learning, Bobbi DePorter, dan Mike Hernacki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *