Khutbah di masjid Al Azhar 40 Cilegon

IMG-20141007-WA0009
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.أَمَّا بَعْدُ؛
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa.Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
تَزَوَّجُوا الْوَلُوْدَ وَالْوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ.
Artinya: “Nikahilah wanita yang penuh dengan kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian dihari kiamat karena jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’I).
Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan. Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja.
Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Kehidupan sebagian besar selebritis yang banyak dipuja orang itu tidak lebih seperti kehidupan yang tak tahu tujuan hidupnya selain hanya makan dan mengumbar nafsu birahinya. Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba dan gaya hidup yang serba glamour adalah konsumsi sehari-hari mereka. Sangat jarang kita saksikan di antara mereka ada yang peduli dengan tujuan hakiki mereka diciptakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala , kalaupun ada mereka hanya menjadikan ritualisme sebagai alat untuk meraih tujuan duniawi, untuk mengecoh masyarakat tentang keadaan mereka yang sebenarnya. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ
artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).
Banyak orang tua yang hanya mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Ada beberapa langkah untuk mewujudkan hal tersebut:
1. Opini atau persepsi orang tua bahwa anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , sebagaimana sabdanya:
إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)
Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan,melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala , dan menjauhi larangan-laranganNya.
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Di lingkungan keluarga, orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kecintaan terhadap agamanya, cinta terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya, sehingga ketika sang anak berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut dapat menangkal setiap saat pengaruh negatif yang akan merusak dirinya.
Di lingkungan sekolah, orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit dalam hal intelektual semata dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi jaminan bagi seorang anak didik
Untuk itu marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Subhannahu wa Ta’ala akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. . وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Ke-II

اْلحَمْدُ ِللهِ|اْلحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ بِاْلاِتّـِحَادِ وَاْلاِعْتِصَاِم بِحَبْلِ اللهِ اْلمَتِيْنِ|أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ|إِيـَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيـَاهُ نَسْتَعِيْنُ|وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسٌوْلُهُ|اْلمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ|اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبـَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ|وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ|.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ|اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ|وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ|وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَاَنهُ وَتَعَالَى أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ|وَثَنَّى بِمَلآئـِكَتِهِ اْلمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ|فَقَالَ تَعَالَى فِي كِتاَبِهِ اْلكَرِيْمِ|أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ|إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىِّ| يآ أَيـُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا|.
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبـَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ|وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقُرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُّريَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ|وَارْضَ اللَّهُمَّ عَلَى أَرْبَعَةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ|سَيِّدِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ|وَعَلىَ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ|وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيـْنِ|وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ|.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ اْلمُسْلِمِيْنَ|وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وِاْلمُسْلِمِيْنَ|وَاَهْلِكِ اْلكَفَرَةَ وَاْلمُبْتَدِعَةَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ|وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلىَ يَوْمِ الدِّيـْنِ | اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ| وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ|اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ|إِنـَّكَ َسمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ| يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ|وَيـَاكَافِيَ اْلمُهِمَّاتِ|بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ|رَبـَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبـَيْنَ قَوْمِنَا بـِالْحَقِّ وَأَنـْتََ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ|رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ|.
عِبَادَ اللهِ|إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ|وَاِيْتَاءِ ذِِى اْلقُرْبىَ وَيـَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ|يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ|فَاذْكُرُوْا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ| وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ|وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ|وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ|. ( اَقِيمُوا الصَّلاَةَ !!!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *